Selasa, 04 September 2012

"Sakit Jiwa" dalam Beragama

Oleh: Dewa Gilang

Beberapa tahun silam, Kota Bandung digegerkan oleh peristiwa pembunuhan 3 orang anak di bawah umur, yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Ironi!. Tapi lebih miris saat ditemukan fakta bahwa ibu 3 anak itu ternyata seorang muslimah, yang taat beribadah, berkecukupan, sarjana dari universitas terkemuka, dan salah satu murid Kiai terkenal di Kota Bandung.

Suaminya-pun demikian. Seorang aktivis Islam, berpendidikan tinggi, mempunyai pekerjaan yang layak, dan taat beribadah.

Tak pelak, kasus ini segera menjadi sorotan media. Tak ketinggalan para pakar, dari psikologi hingga agama beramai-ramai menurunkan ulasan membahas peristiwa itu. KH Jalaludin Rakhmat tercatat pernah mengarang satu buku khusus tentang hal tersebut, yaitu "Psikologi Agama".

Dalam bukunya, Kang Jalal, demikian Beliau akrab dipanggil, mengulas hubungan penyakit kejiwaan dengan perilaku individu beragama. Mengejutkan, menurut Kang Jalal, penyakit jiwa sangat mungkin menjangkiti setiap individu beragama.

Kini, di Sampang terjadi peristiwa pembantaian terhadap komunitas Syiah. Dua korban telah dinyatakan tewas. Sangat relevan bila peristiwa Sampang dikaitkan dengan pendapat Kang Jalal tentang "sakit jiwa"-nya orang yang beragama.

Setidaknya, kasus Bandung dan Sampang memiliki benang merah, yaitu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang religius. Sampang sendiri -khususnya, dan Madura -umumnya, begitu terkenal sebagai wilayah yang religius dan termasuk ke dalam daerah "lumbung santri". Daerah yang banyak menelurkan ulama terkemuka di tanah Jawa. Bahkan NU sendiri mempunyai akar historis di Pulau tersebut.

Kang Jalal, dalam "Psikologi Agama", sedikitnya menyodorkan tiga tipikal cara beragama yang menyebabkan gangguan kejiwaan. Sehingga, pelakunya bisa dikatakan mengidap "sakit jiwa", yaitu:

1. Cara beragama yang membuat kita tidak lagi berpikir realistis, menolak realitas. Agama baginya seakan-akan mengajarkan penyelesaian dengan mudah dan cepat.

Seseorang yang terus berdoa dan beribadah sembari mengharapkan rezeki dari Tuhan, dengan doa yang sangat panjang, namun tak dibarengi dengan usaha lahir, dipastikan termasuk tipikal pertama. Di mana agama seakan telah menutup pikirannya untuk berpikir realistis, dan menolak realitas yang ada.

Kasus-kasus seperti Ponari dan tertipunya masyarakat oleh oknum yang berkata bisa mendatangkan kekayaan, berupa duit berlipat, dengan berbungkus ritual-ritual keagamaan adalah contoh nyata betapa banyaknya masyarakat kita yang telah terjangkiti penyakit kejiwaan. Demikian pula dengan janji-janji tentang tatanan dunia baru termasuk ke dalamnya.

2. Cara beragama yang mengorbankan akal sehat. Seakan-akan agama tidak berjalan selaras dengan akal.

Memang benar banyak dogma dalam agama yang tidak dapat dicerna oleh akal kita, karena merupakan domain iman. Tetapi bukan berarti agama menghapus peran akal seorang manusia. Agama justru sangat menghargai keberadaan akal. Kalimat-kalimat seperti, "Afala Ta'qilun", "Afala Ta'lamun", Afala Tattafakarun", "Afala Tatadabbarun", menunjukkan betapa Tuhan memerintahkan kita agar menggunakan akal sehat.

3. Cara beragama kaum extrimis.

Kaum ini biasanya akan mengalami penyakit kejiwaan psikis (psikopat) bernama "Delusi". Penderita delusi akan selalu memandang dunia dengan kacamata hitam-putih. Sehingga ia akan selalu merasa berada dalam kelompok putih, sementara orang yang tak sepaham dengannya berada dalam kotak hitam.

Ia merasa seolah-olah dirinya adalah "Nabi", "Sang Penyelamat" dunia, yang diutus oleh Tuhan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan umat dari kesesatan -menurutnya. Pokoknya, di matanya semua orang salah, hanya ia, kelompoknya dan pendapatnyalah yang benar.

Apa yang terjadi di Sampang, menyimak uraian Kang Jalal di atas, kiranya termasuk tipikal yang ketiga. Di mana, menurut mereka, komunitas Syiah bak penghancur dunia dan biang keladi sesatnya umat. Karenanya, mereka harus dibasmi dari muka bumi.

Sekarang semuanya kembali kepada kita, intropeksi adalah kata kuncinya. Apakah ada pada diri kita tipikal beragama di atas?. Jika ada, berhati-hatilah, sebab kita telah terjangkiti "sakit jiwa" dalam beragama.(IRIB Indonesia / Kompasiana / SL)

Salam berang-berang.

Selamat menikmati hidangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar